| Monday, August 25, 2008 |
|
Film Horor: Gua Nggak Takut Kok... Bener. Aneh. Emang Aneh. Napa Emang. Sinting. |
kontributor: nahsi koto khan
Pernah membayangkan Riri Riza menenteng piala citra ke mana-mana? Dengan tingkahnya yang setengah kaku, setengah lucu, dia bertanya pada banyak orang, “Kalau mau mengembaliin piala ini ke mana, ya?” Dan pertanyaan itu terjawab ketika Gus Dur setengah kesel dan mengumpat mengatakan, “Piala kok dikembalikan. Gitu aja kok repot.”
Pada sebuah waktu dan tempat yang lain, Tukul ternyata juga merupakan masterpiece, orang Indonesia terpopuler dengan kata “puas, puas, puas…” nya. Lalu Maria Eva dengan gamblang dan vulgar bercerita teknik mengambil film di kamera handphone.
Lalu ada hantu yang berniat menakut-nakuti orang dengan menjatuhkan kedua biji matanya lalu berjalan terantuk-antuk. Atau mau lihat hantu jeruk purut dengan kepala dan badan terpisah itu menggoda cewek sambil terkentut-kentut?
Membayangkan itu semua mungkin semacam lelucon yang bisa membuat kita terpingkal-pingkal. Dan itu bisa Anda temukan dalam film komedi-horor dengan judul Film Horor. Konon pelem ini mengadopsi Scary Movie dengan memparodikan beberapa adegan film dan ternyata lebih banyak personil, sosok atau orang tertentu. Tak sampai di situ, konon produsernya juga mengangkut “tukang” dari luar sana untuk memoles pelem ini. Dan itu lumayam menjadi sorotan sebelum pelem ini bisa saya tonton dalam keping VCD dengan harga tiga ribu doang.
Ternyata setelah menonton ini saya merasa tak mendapat kebaruan yang berarti baik dalam sound effeck atau teknik gambar dan sebagainya, sebagaimana yang digembar-gemborkan. Entah saya nyang bodoh mungkin. Sama saja. Ada hantu, cewek nangis, adegan-adegan setengah mesum dan canggung (ntar ndak boleh tayang kalo terlalu ‘seru’. Resikonya dicekal, kan?), gelap ala Nayato dan melulu malam juga mewarnai adegan, cerita di kampus dengan tokoh-tokoh bermobil dan tak ada masalah dengan uang, ajep-ajep dan semacamnya. Gitu-gitu doanglah. Gambaran umum di banyak film dan sinetron di negeri ini dan tentu amat berbeda dengan dunia aslinya.
Saya mengajak Anda berpikir sejenak tentang ini. Apa benar sudah sebegitu mapannya mahasiswa kita? Ke kampus tanpa tentengan kecuali tas buat gaya-gayaan. Mungkin benar juga. Seperti itulah gambaran anak muda sekarang. Merdeka, bebas, kantong tebal dengan kepala yang kosong. Meski sebagian besar orang tak merasakan dunia itu. Setidaknya dengan menonton ini orang-orang bisa bermimpi sewaktu-waktu bisa hidup seperti itu (sebagaimana imaji Gus Muh dulu, ketika mahasiswa dapat cewek kaya, cantik dan baik hati. GUSMUH: KOTO, AWAS LU YA…!!!). Tapi hidup kan bukan sinetron sebagaimana Jibril turun di malam 17 ramadhan dan sibuk melinting ganja yang jauh-jauh ditenteng dari Aceh sana bukan, Gus Muh?
Kembali ke… pelem.
Ada upaya pembalikan fakta (bahasa kerennya tanya aja si Jejen) dalam film ini, di mana hantu bukan melulu makluk mengerikan tetapi juga makhluk yang konyol, bisa salah dan kesepian. Lihatlah Hantu Jeruk Purut yang kesulitan dgn kepalanya yang suka menggelinding dan ia tak punya teman. Atau tengok misalnya hantu yang berdiam di WC kampus diam-diam belajar memoles bibir dengan gincu. Biar modern ya, Ntuh? Atau tengok juga misalnya para Suster Ngesot yang tergila-gila sama dangdut (bikin tim cerlider aja Mbak!).
Yup! Para hantu berkumpul. Tapi lebih banyak menjadi pecundang. Malangnya dirimu duhai para Hantu.. ((H)an (Tu)Ismanto termasuk malang gak ya?
Tetapi bagaimana pun upaya memparodikan ini, kesan membikin pelem horor (hantu-hantuan) tak bisa ditepis. Sejak awal kita disuguhi keremangan malam, musik yang menggetarkan jiwa (bukan lagu Tompi lo), pekikan-pekikan dan kilatan-kilatan cahaya. Wah, kalau yang beginian mah ndak usah mengimpor ahli dari Holiwood segala. Nayato punya tim khusus tuh kayaknya.
Temanku ngamuk-ngamuk karena adegannya selalu malam dan malam. Kalau pun ada adegan siang, ya itu tadi, untuk memperlihatkan betapa konyolnya duplikan Riri Riza, Tukul, Maria Eva atau Cut Memey yang tiba-tiba begitu genit dan menggemaskan. Atau sekedar melihat aksi Feri Irawan (BENAR NGGAK NAMA INI KOTO, ATAU INGATANMU PAYAH—pemutar pelem yg galak!), seorang komandan muda yang suka bergaya di depan kamera dengan kepala yang kosong tapi suka mengoleksi barang bukti yang merangkak di garis batas polisi yang dipajang berseliweran. Nyindir pak polisi kita nih? (buat pak polisi: bukan menghasut lo pak, bener lo. Ini lebih dari sekedar sindiran LA Light lo yang bilangin Polisi (suka) tidur dan rokok nyari untung doang pak. Tapi ini tak hanya menghina kerja polisi dan isi otaknya tapi bakat dan tingkahnya juga ditiru eh, dijelek-jelekin di pelem ini. Masa pak polisi berkumis mondar-mandir terus di depan kamera kerjaannya).
Tapi adegan Feri ini lumayam asyik. Polisi ganteng yang cool beneran.
Jalinan cerita yang rumit juga menjadikan pelem ini bukan sekedar hiburan. Temanya lumayan berat dan dengan penyelesaian yang khas kita, terburu-buru. Jika di Scary Movie kita diantar pada lelucon-lelucon dan adegan konyol tanpa harus berkerut, sebenarnya di pelem ini tak melulu kita dapatkan ini. Porsi hantu sangat besar dalam pelem ini dan itu yang dijual. Bayangkan nyaris seluruh jenis hantu populer (yang terkenal maksudnya), diundang main. Aku jadi ingat Si Manis, dia gak diajak. Kalah sama hantu-hantu jenis baru. Kayak bintang pelem aja ya. Semua hantu ngumpul!
Upaya menampilkan sisi komedi dalam ketegangan ini memang patut diacungi jempol. Meski pun tidak sepenuhnya dianggap berhasil saya pikir upaya ke jalan itu sudah ada. Sebab bagaimana pun memparodikan dagelan umum, karakter dan semacamnya cukup menjual di sini, apalagi menghina fisik kan? Ada beberapa adegan film yang dicomot dan membuat kita tergelak juga. Heart, Ekskul, pelem esek-esek Maria Eva yang paling kentara. Tapi parodi semacam ini mungkin bagi pihak lain sangat menghina. Saya tidak tahu tuh reaksi Riri Riza asli jika tau dirinya menjadi tolol begitu (aslinya tolol ndak sih?), atau keluarga pasangan Maria Eva di pelem ehm-ehm itu menyaksikan adegan film semacam itu.
Maksudku, bisa ndak ya kita menyajikan pelem tanpa ada hujatan-hujatan yang memojokkan personal tertentu. Full kreativitas, gitu. Tapi memparodikan hantu mungkin sudah waktunya. Bukankah trend humor memang sedang laku? Dan hantu saya pikir juga tidak mau ketinggalan.
Tapi begitulah, kita memang tidak bisa memuji banyak untuk pelem kita apalagi nyangkut jalan cerita dan akting para pemainnya. Rada-rada gimana… gitu!
Jadi kalo orang hamil, lemah jantung & sakit hati, pikir dulu deh sebelum nonton pelem ini. Sumpah! Nggak seremmmmmmmmm. Lho.
FILM HOROR (2007) Produser : Shankar Rs B.sc, lah Produksi : Indika Entertainment dong Pemain:Angie Vigin, Sheila Marcia, Andhika Gumilang, Reza Rahadian, Cut Memey, Frry Irawan, dan seluruh properti hantu. Sutradara : Toto Hoedi Labels: Horor
tonton selengkapnya!
|
posted by Pengasap Kubur @ 2:22 AM
 |
|
|
|
|
| Tuesday, July 15, 2008 |
|
DO: do-ado, Komedi Kok Kayak Gene Tak Iye |
kontributor: nashi koto khan
Saya mungkin orang yang sentimen menyimpulkan sesuatu. Dengan sedih saya sampai pada kesimpulan buruk: Titi Kamal itu ndak bisa main pelem. Dan untuk dicatat, dia bukanlah seorang komedian.
Menonton pelem ini (saya berharap, pelem ini baik sebab meski pun genre komedi Porno sedang laris, judulnya belum sampai pada kesimpulan buruk) yang berjudul DO alias Drop Out saya sampai pada eksimpulan kedua; di antara pelem-pelem buruk ini pelem buruk kedua yang saya tonton. Pelem buruk yang dimainkan oleh orang ‘ternama’.
Mau tau pelem paling buruk yang lain? Saya tidak akan berahasia, Judulnya Soul Mate (belahan Jiwa). Tadinya saya ingin menulis ini. tapi saya malu. Soul Mate, saya lupa tahun produksinya, dimainkan oleh Dian sastro sarjana kita yang cantik itu. Eit tak Dian seorang lo, ada Rachel Maryam, ada .... siapa lagi kok saya jadi lupa2.
Saya tak tahu penyakit baru di pelem kita sedang berkembang. Saya pikir pelem kita tak separah televisi yang memborbadir orang dengan tema yang itu-itu saja dengan alasan lagi tren pasar, gitu kan? Pelem kita kita juga begitu ternyata. Setelah hantu (sampai kini belum habis-habisnya) kita disodori pelem Komedi dewasa. Aih, rasanya kita balik ke masa Inneke Koesherawati, Malfin Sheina, Sally Marcelina lagi. Cuma judulnya ndak semenantang itu dan pornonya lebih bermoral, dikit. Dan LSF lebih memakai etika ketimuran yang dahsyat, ditambah adanya ulama yang ikut menjadi penyensor kedua.
Ah, saya tidak sedang berceramah sodara-sodara biarlah itu jatahnya si Jejen. Saya sok bijak saja kayak si Goes Moeh itu. Saya tidak masalah mau pelem telanjang atau apalah namanya, karena saya juga suka pelem-pelem begituan, sumpah. Apalagi artisnya lokal, bahasanya saya ngerti. Ereksinya bisa dua kali. Tanyalah Jejen soal itu.
Hm... jadi DO dari kacamata saya (maafkan, kali ini resensi saya agak kacau; kian nggak jelas seperti pelem DO ini) adalah salah satu dua pelem yang paling buruk. Komedinya tak sampai, kesan joroknya juga ndak tiba. Lalu pelem jenis apakah ini kita namakan?
Alkisah, pelem dibuka dengan adegan manis, ospek di kampus. Di mana, tokoh utama cowok kita Jemi (Ben Joshua) awalnya ospek, lalu menjadi panitia ospek sampai bertahun-tahun berikutnya. De’e iku mahasiswa abadi jenenge. Tapi mukanya imut abis. Gak terlihat tua lo. Sumpah. Di kampus ada Doktor (doktor bukan dokter) M namanya doktor M. yang main ya Pak Dokter Perkelaminan kita, Dr Boyke, yang suaranya kayak Agung (Dwi Hartanto) kalo bermanja itu. Dia killer tapi seneng cewek. Sukanya bertengkar dengan istrinya ditelpon soal hubungan badan dan demen cewek cantik.
Uih, dasyat… si Jemi kita ini punya ibu kos yang genit dan suka tidur sama anak-anaknya (anak kos). Ada Dwi Sasono yang ndak tau masih kuliah apa ndak tapi.. ah.. pusing saya. Ndak bisa saya menceritakan ulang. Terlalu ancur saja menurut saya.
Jadi gini aja deh. Kita liat adegan per adegan aja, biar enak. Dengan dan saksikan akting diokter M kita yang semua alkulturasinya selalu tinggi itu. Atau hari pertama Titi Kamal di kampus dan lihatlah betapa garingnya ketika Titi Lari dari kejaran Doktor M. Doi kebentur tiang, tapi sumpah ndak lucu. Lha, justru kita kasian. Trus dia ketemu Ben, eh, Jemi yang suka ngejar-ngejar cewek.
“Masya Allah.. bodohnya….” Jerit Titi Kamal yang membuat saya tersenyum karena umpannya tak mempan.
Denger pula penjelasan si Jemi pada temannya Dimas Aditya ya, seputar perkelamnian di perpus kampus. Suaranya keras lagi. Konyolll.. lalu si Lea (Bu dosen Titi K kita) mendengar. Dan lihat, dia ber oh-oh di perpus itu. Tolol banget deh. Dia terangsang atau jijik? Cara dia menguping membuat saya iba, sampe salto-salto segala. Gak wibawa banget deh.
Nah dia itu yang menyeret Jemi ke sebuah ruangan. Dia bermurahhati membantu Jemi belajar (kayak anak sma itu lo) biar cepat lulus dengan konsekwensi dia diajarkan hal-hal begituan. Dia mau diajarin gituin. Kegatelan ato iri sama adiknya yang sudah buncit duluan?
Begitulah. Sementara di kosan, si ketek out alias mati gara-gara nelen obat kuat kebanyakan dan gak kuat liat ibu kos yang buka baju didepan dia. Mati berdiri lo. Sumpah, pake berdiri. Lalu tiba-tiba, sepertis sebuah sinetron, polisi datang, mau menangkap si germo (Dwi Sasono) yang ternyata pengedar pelem porno.
Dua alasan inilah yang membuat Tokoh kita jadi bertekat lulus kuliah. Jadi untuk merubah tokoh kita ini harus ada yang mati dan ditangkap polisi dulu.
Belum lagi tokoh-tokoh yang mengejek Cuinta Lauwrra (r-nya ditebelin tapi gak dibunyiin. Kayak rrr singa itu lo) yang ojhegnya bechek karena ujhan. Ada komedi satir dan tak lucu tentang anak baru yang namanya Niken Tilu. Apanya yang lucu coba?
Ada adegan doktor M lagi yang bertengkar sama istrinya di restoran ngomong seks lagi. Ada adegan Titi Kamal nangis di kamar Jemi dan bilang “Kok gak dipeluk sih, kayak dipelem-pelem itu…” ada Titi Kamal yang berteriak “Hoi.. (orang-orang) Jemi ternayata belum pernah ngesek....” Ada adegan perkoncoan Jemi dan Doktor M soal kelulusan. Si Germo yang keluar dari penjara dan sebel melihat Jemi jadi anak manis gara-gara Titi Kala, eh Kamal. Lalu dia mencuri HP Jemi dan “menukar” Bu Lea dengan sarjana kawannya itu. Dan sip. Titi Kamal diajak tidur sama Boyke. Adegan konyol garing ini berakhir dengan rintihan Sang Doktor memegang anunya dijilat sikut si Titi Kita. Konon adegan ini ditunggu-tunggu banyak orang. Terberkatilah kalian. Dan terkutuklah surtadara dan badan sensor yang nggak memperlihatkan telanjang saja semuanya supa ya semua puas puas puas... Itung2 ada yang bisa dibawa pulang.
Lalu ini agak manis adegannya, Lea datang ke Kos Jemi dan ngamuk. Dia telah dijual. Dia tidak terima dan menampar Jemi di depan kawan-kawannya yang lagi sibuk mengelilingi ibu kos. Lalu Titi pergi dengan tangis luar biasa. Jemi lesu, bu kos dengan enteng pulang.
“Germo ngaku aja deh lu…”
Dan berbaku hantamlah si Germo yang badannya besar dengan Jemi yang kecil. Tapi kebenaran selalu menang bukan? Maka datanglah polisi dan Jemi dirawat kawan-kawan yang simpati.
Selajutnya, Doktor M dipecat dan dia berterimakasih sama si Lea kita itu, sebab keluarganya menjadi harmonis, katanya. Lalu adegan Lea, Bu Dosen itu terjatuh dari tangga kampus karena sibuk menelpn Jemi dan minta maaf. Jatuh lagi, jatuh lagi. Kayak Warkop aja nih. Lalu? Ya mereka pacaran. Si Jemi dan Bu Lea. Jemi wisuda. Ndak jadi DO. Lalu? Si Banci teman Jemi yang sering minjamin uang itu menikah. Dengan? Niken Ti… Lu..” kata pendeta yang mengawinkan mereka. Lalu, ya ketawa, kan lucu. Orang pendeta aja susah nyebut namanya. Lalu? Ya liatlah sepasang anak muda yang senyum-senyum di tengah pengunjung. Lalu? Abis deh. Lalu? Teriaklah keras-keras.. “do-ado, pelem komede kok kayak gene tak iye..”
Hm.. (sok wibawa nih) itu tentu pandangan subjektif saya saja. Anda boleh bilang ini pelem paling berhasil dan mestinya memborong piala citra, ikut festival seperti pelem hantu itu dan semacamnya. Saya hanya heran aja dan cemburu, di Jakarta minjam uang itu gampang banget. Atau si jemi yang terlalu beruntung. Tiap kali terjepit dan butuh uang tinggal ngetuk kamar tetangganya, mengulurkan tangan dan sejumlah uang meluncur. Apa dia punya bendahara ya?
Gak ada gambaran anak kos yang miskin di sana. Yang kayak Gusmuh dulu, mengayuh sepeda tua memakai caping membelah jalan Gejayan dengan muka hitam, keringatan dan perut bernyanyi (Terkutuk kau, Kothol!!!!).
Sumpah, bagi saya ini pelem kedua yang paling, amat, sangat, banget, buruk yang dimainkan oleh orang yang konon dahsyat. Sudah. Ada pleidoi?Labels: Indonesia, Komedi
tonton selengkapnya!
|
posted by Pengasap Kubur @ 9:01 PM
 |
|
|
|
|
| Monday, June 16, 2008 |
|
Tak Butuh 3 Hari untuk Menyesal |
kontributor: yandri
Karena saya orangnya mudah percaya, maka ketika banyak media memuji-muji film garapan Riri Riza yang terbaru (saat itu 2007), “Tiga Hari untuk Selamanya”, sayapun ikut penasaran untuk segera menyaksikan. Waktu itu filmnya sudah diputar di 21, tapi karena belum punya duit dan begitu pendeknya nafas hidupnya di Yogya, saya gagal menyaksikan film tersebut.
Singkat cerita, karena masa tayang yang begitu cepat, dengan perhitungan dan analisis yang --alhamdulilah ngawur--, saya pikir film ini pasti begitu beratnya, hingga orang-orang tidak tertarik nonton. Belum lagi melihat sekilas review-nya oleh Susi Ivaty di kompas, tema perjalanan yang jarang diangkat oleh sineas Indonesia ini menurut saya cukup menarik.
Namun setelah kemarin mendapatkan VCD originalnya, dengan menghabiskan seluruh sisa duit yang ada untuk meminjam di rental langganan, harapan saya yang cukup tinggi langsung musnah.
Oh tidak, film ini tidak jelek, tidak separah film aliansi setan dan demit Indonesia yang biasanya muncul sekilas itu.
Hanya saja, ah, Riri Reza selalu saja tidak sabar, tidak mencurahkan energinya untuk menggarap film secara maksimal. ‘penyakit’ macam GIE muncul lagi di film ini. Banyak detail yang percuma kalau tidak kabur (semoga karena sensor). Kelemahan utama tentu pada alasan perjalanan itu sendiri. Mengantar porselen hanya karena sudah tradisi dan tidak percaya pada maskapai penerbangan ??? Macam orang LDII di Kabupaten saya yang menolak diberi vaksin polio karena buatan Amerika (ampun bang munarman, eh anda bukan LDII ding, anda kan sarjana hukum).
Terus adegan gelap di sekitar sepertiga akhir film apa maksudnya?! Gempa-kah? Kok masih bisa beli wedang di angkringan setelah hari H gempa?
Ah, pokoknya banyak potensi yang terlewatkan untuk digarap lebih sabar dan detail.
Sisi positifnya barangkali akting Nico dan Ardinia Rasti (Ngganja dan mabok, jangan-jangan akting mereka natural karena mereka sudah aslinya memang satu aliran dengan Jackie Chan di Drunken master?). Chemistry atawa hubungan kimia (entah apa mangsudnya, tapi orang –orang yang ngereview film sering pake’ kata ini, saya comot saja biar kelihatan pinter) mereka sangat terasa. Sayang, bocoran di internet bilang mereka akhirnya ber’zina’ tapi demi tujuan mulia melindungi generasi muda Indonesia dari hal-hal yang negatif, maka adegan itu terpaksa disunat (terkutuk anda Titie Said). Saya kemudian cari-cari apa maksud sebenarnya film ini.
Kata orang-orang pinter di internet, film ini bercerita tentang perbenturan budaya di Indonesia, si Nico dan Ardinia Rasti adalah representasi manusia Indonesia modern, sementara di sepanjang perjalanan, yang kurang lebih memang tiga hari lebih beberapa jam itu, (saya benar-benar menghitungnya, suer!) mereka berinteraksi dengan budaya lokal (maksudnya orang kota yang jijik makan di warung pinggir jalan, cari hotel murah di Tegal yang seharusnya banyak tapi malah menginap di rumah Haji yang maniak poligami, atau nafsu lihat ronggeng nari di pinggir pantai, dll).
Pada intinya, tolong jangan dibandingkan dengan “On The Road”-nya Jack Keruoac, yang sama-sama cerita tentang perjalanan ‘orang mabok’(walau yang ini sih tentang penyair ‘Beat’ dan di setting-nya Amerika), karena memang substansi ceritanya beda.
“Heartland”? jangan ah, kurang lucu, karena memang tidak jelas film ini mau dibikin humor atau tidak. “motorcycle diary”? apalagi. Penyakit orang Indonesia ialah suka mengidentifikasi diri dengan produk barat. Tugiyo dibilang “maradona-nya Indonesia”, atau lotek dibilang “salad-nya jawa”.
Oh tidak baik membanding-bandingkan. Apalagi hanya menghina film karya lokal, oh sungguh tidak konstruktif dan tidak adil. Kalau memang ada kesamaan dengan produk Holywood, maka film ini memiliki elemen yang serupa dengan “Darjeeling Limited”, film perjalanan naik kereta menyusuri India (bintangnya si Adrien Brody ‘The Pianist’ dan Owen Wilson) berkisah tentang perjalanan spiritual yang dipaksakan.
Terus persamaannya apa? Ya perjalanan di Film ini juga dipaksakan harus hadir. Elemen utama inilah yang sebenarnya tidak terlalu penting dari semua bangun cerita. Oh sayang, oh mama oh papa. Gapapa, daripada ndak ada sama sekali. Barangkali Riri perlu bikin film perjalanan “Ekspedisi Tali pocong perawan via Benjeng Kruwul – Surabaya PP”. Pasti laku, rekor AAC saya yakin lewat.
Insayaallah. Masak Insyaadong!
tonton selengkapnya!
|
posted by Pengasap Kubur @ 1:08 AM
 |
|
|
|
|
| Tuesday, April 22, 2008 |
|
“Film yang bagus itu ya, yang seperti Ayat-ayat Cinta, Tauk!” |
kontributor: kotho ben pundjabi
“Ya, kita nonton Ayat-ayat Cinta, ya?” rengek pacarku jauh sebelum film ini diputar. Pacarku, sebagaimana pacar-pacar siapa pun di hampir seluruh negeri ini tahu bahwa Ayat-Ayat Cinta sedang dalam proses penggarapan ke film waktu itu. Wong di kampungku, nun jauh di pesisir pantai Sumatera Barat yang aksesnya terbatas itu saja tahu bahwa ada Novel dasyat yang berjudul Ayat-ayat Cinta. Yang ini aku yakin, mereka tahunya dari acara infotaiment yang digemari nyaris sebagian besar mabnusia Indonesia.
Tak lama berselang, (cieeh.. bahasanya) film itu diputar juga. Aku sudah baca resensinya di Kompas minggu yang ditulis Susi Ivvanti (kira-kira begitulah namanya) yang kemudian aku tahu bahwa dia telah melakukan sebuah kesalahan besar dalam menceritakan alur film tersebut. Susi, dalam resensinya bercerita bahwa Nurul menuduh Fahri memperkosanya, yang baik dalam novel dan filmnya tokoh itu bernama Noura. Adakah karena kedekatan nama tersebut membuat Susi lupa dan media sebesar Kompas luput mengeditnya. Atau jangan-jangan Mbak Susinya belum tahu itu novelnya. Kha..kha..kha..
Demikianlah, sebagaimana yang ditakdirkan aku menantang pacarku. “Gimana, hari ini diputar perdana loh, mau nonton gak.” Kataku pada sang pacar. Sumpah, di kantongku hanya ada uang tujuh ribuan saja yang hanya bisa untuk sekedar makan malam saja.
“Gak lah. Pasti antri. Lagi pula mahal,” tolaknya.
“Lalu?”
“Kita tunggu saja CD-nya. Paling bentar lagi yang bajakan pasti ada.”
Dan batallah kami ke Ambarukmo Plaza Jogja dan jadilah aku makan malam yang lebih enak sendirian.
Ramalannya sepenuhnya benar. Beberapa hari kemudian, ketika filmnya masih diputar di bioskop, kawan tetangga kamarku datang menenteng dua keping CD.
“Ayat-ayat cinta,” teriaknya. “Cuma boleh minjam sehari saja.”
Apa lacur. Banyak yang antri. Pelem baru lagi. Kami sepakat akan menontonnya sehabis magrib.
Meski bajakan, saudara; dengan mutu gambar dan suara yang lumayan parah, toh aku bisa juga menikmati keseluruhan ceritanya. Nanti, pada bagian akhir CD kedua, film ini tak sepenuhnya selesai. Ending yang aku ketahui hanyalah ketika Aisya kembali ke rumah dan Maria tersenyum di balik pintu. Disk ketiganya aku dapatkan juga di sebuah warnet, ketika aku hendak mengoleksi film-film porno sebelum pemerintah turun tangan mengenyahkan barang-barang tersebut. Selebihnya yang bersisa hanya gerutu dan kekesalan.
Betapa tidak, lihatlah Fahri, tokoh kita yang satu ini. Betapa pasifnya dia sebagai bintang utama. Nyaris dalam keseluruhan film ia tampak diam dan menunduk. Karakter muslim pun tidak sempurna melekat pada dirinya. Tak ada janggut, tak ada pakaian dan sikap yang mencerminkan dia anak al-Azhar kecuali pada bagian di mana dia tak mau bersalaman dengan perempuan lalu dia tampak khusuk di tempat yang remang, pengajian. Ha..., Ndika Mahrendra, temanku penyair itu saja lebih terlihat lebih Islami ketimbang dia. Atau mungkin lebih pas An Ismanto yang berperan menjadi Fahri.
Lalu Maria sebagai gadis Kairo dan Aisya sebagai gadis Jerman tak terlihat karakternya sekali. Belum lagi bahasa yang mereka gunakan, bahasa Indobnesia yang Jakarta banget. Kesan bahasa ini sepenuhnya amat mengganggu. Kita seolah menonton film yang sedang di dubbing. Tiap awal adegan, kita ditawarkan pada bahasa Arab sebagai pengantar, seolah memaksa kita untuk menyadari bahwa “Ini di Mesir lo, ihwan-ahwat!” Saya seperti melihat film yang ditayangkan Indosiar tentang legenda-legenda itu. Kenapa tidak sekalian bahasa Arab saja? Kenapa hanya bahasa-bahasa pengantar saja menggunakan bahasa Arab? Kalo yang itu, tak usah jauh-jauh ke Mesir segala. Di sini, main saja ke markas organisasi-organisasi Islam, bahasa semacam itu bukan barang baru lagi, kok. Aku tak habis pikir juga, bagaimana para pemain yang diwawancarai itu bilang, itu karena kursus bahasa Arab lah dan semacamnya. Gus Muh saja lancer kok kalau cuma bicara “ikhwan-akhwat-afwan-ukhti-dsb” semacam itu.
Aisyah, kita kembali pada cewek cantik ini. Dalam resensi di situs resminya saya dapatkan keterangan semacam ini, “Aisha, 25 th (Rianti Cartwright). Mahasiswi asing keturunan Jerman dan Turki, cerdas, cantik dan kaya raya. Latar belakang keluarganya yang berliku mempertemukan dirinya dengan Fahri.” Indo Jerman Turki? Terwakilikah karakter ini menurut saudara? Lalu soal kaya rayanya itu lo. Saya tidak menemukan hubungan kekayaannya dengan jalinan cerita yang dibangun. Apakah kekayaan itu ingin ditampilkan ketika Fahri dalam penjara dan dia berusaha menyelamatkan sang suami dan menghabiskan banyak uang? Di sini pun, siapa pun akan melakukan hal yang sama, saya rasa. Meskipun harus menggadai sawah dan tanah mereka.
Kesan Islami pada perempuan ini hanya muncul ketika dia masih gadis saja. Begitu menikah, dia terlihat menjengkelkan dan pongah. Sikapnya pada sang suami juga tak terlampau mewakili bahwa dia istri yang baik dan santun. Dialog-dialog dia dengan fahri di amna dia mengganti komputer tua lakinya dengan laptop misalnya atau ketika mereka bersoal akan tinggal di mana, malah terlihat sikap sombong dan arogan.
Dan kematian Maria. Betapa terburu-buru digarap. Ketika dia menikah dengan Fahri, dalam waktu sekejap dia sembuh dari sakit yang parah. Tapi begitu menceritakan kematiannya, dalam waktus sekejab dia meninggal dunia. Wah... takdir bung, takdir, teriak kawan jengkel.
Lalu mengenai gadis Nurul binti Ja'far Abdur Razaq yang berasal dari Jawa Timur ini, kehadirannya di film sama sekali tidak mempengaruhi jalan cerita. Dia hadir atau tidak saya pikir sama saja. Justru kehadiran tokoh ini membuat saya harus berkomentar buruk lagi. Betapa tidak, tak terlihat keakrabannya dengan Fahri, tiba-tiba saja, entah karena apa dia kagum, jatuh cinta, dan hendak menikahinya. Dan tiba-tiba saja ngambek dan marah. Kenapa dia? Ada bagian yang dipotong lembaga sensor ya?
Sudahlah, sudah begitu banyak resensi mengenai ini saya kira. Kritik dan pujian tentu saja. Benar itu semua. Saya juga ingin berkata, mana Mesirnya? Apa yang khas selain kacamata hitam dan keranjang Maria? Tokoh-tokoh yang berperan jadi orang Mesir pun sepertinya dimainkan oleh orang-orang India Pasar Baru. Soal bahasa dan seting yang terburu-buru digarap dan melupakan detail soal Mesir dan sebagainya semakin memperparah cerita ini. Atau tengoklah ketika Fahri meraung-raung di penjara dan seorang kawan terpidana lainnya menghajarnya dengan nasehat. Mahasiswa S2 itu pun tersadarkan oleh napi yang tak diketahui indentitasnya itu, apakah dia seorang rektor atau kyai sebelumnya?
“Tak bisa. Ndak layak itu. Tidak masuk akal,” giliran pacar saya yang marah melihat Fahri yang tiba-tiba tersadarkan. “Semula dia hero, membela perempuan Barat di bis dengan firman Tuhan, kok tiba-tiba justru disadarkan oleh seorang narapidana yang tak jelas semacam itu?” kembali dia meradang.
“Kebenaran datangnya kan dari mana saja. Kita juga bisa belajar dari orang-orang semacam itu. Orang-orang yang tak diduga dan luput dari amatan kita,” saya mencoba membela.
“Tapi merusak logika filmnya tau,” pacar saya mengaum lebih keras dan mulai tak terkendali. Kalau sudah begini saya lebih baik diam saja.
Tapi begitulah. Sebuah film dan Indonesia pula, tentu tak habis dibicarakan segala kekurangannya. Jika boleh memuji saya suka dengan ilustrasi musiknya, tetapi tidak dengan cerita dan setingnya. Itu saja.
Lalu suatu kali teman perempuan di kampus saya yang diakuinya sendiri jarang nonton film mengatakan kepada saya, “Pelem yang bagus itu ya kayak Ayat-ayat Cinta, Tauk!”
“O....” Dan saya pun melongo. Saya masih belum bisa menjawab ini tentang benar atau tidaknya. Permisi!
AYAT-AYAT CINTA (2008) Pemain: Fedy Nuril, Rianti Cartwright, Sazkia Mecca, Melanie Putri, Carrisa Putri, Surya Saputra, Oka Antara Penulis Naskah: Salman Aristo & Ginatri S. Noer dari Novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy Produksi: MD Pictures Sutradara: Hanung BramantyoLabels: Indonesia
tonton selengkapnya!
|
posted by Pengasap Kubur @ 9:27 AM
 |
|
|
|
|
| Thursday, July 19, 2007 |
|
Kisah Cinta yang Nehi-nehi.... |
kontributor: nashi ben koto
Dia tidak cantik mak… Dia tidak jelek mak…
Dulu saya mengira lagu dangdut manis yang dinyanyikan oleh Iwan, penyanyi Malaysia yang lahir di Medan itu tidak hanya sebentuk bangunan rasa percaya diri pada kekasih, tapi juga kehernihan inspirasi.
Tentu saja saya sering menyanyikan lagi itu dan mencintainya sepenuh hati.
Tapi kau akan dilanda rasa heran sekaligus bingung begitu film India yang berjudul Mann diputar. Airmata akan berhenti sejenak begitu lagu Tina Tik Tana mengalun. Apa pasal? Mak oi, kedua lagu itu mirip dan persis sama. Tentu liriknya saja yang berbeda.
Ini bukan analisis kelatahan dan kebiasaan mencontek—sebagaimana sinetron dan film kita semakin hari semakin merapat pada Jepang dan Korea. Jadi jangan tanya saya siapa yang lebih dulu mempopulerkan lagu tersebut. Jawab saya…. “nehi… nehilah….” Saya hanya ingin mengatakan, siapkan ember, selembar tisu, dan cemilan keras ketika Mann sampai di tanganmu. Karena adegan deraian bawang Bombay segera akan dimulai.
Begini ceritanya saudara-saudara: Dev dan Priya bertemu di sebuah kapal pesiar luar negeri dan saling jatuh cinta satu sama lain. Mereka berdua akan menikah, dengan pasangannya masing-masing. Dan sepenuhnya sadar akan hal ini, mereka berpisah di akhir pelayaran, dan berjanji bertemu lagi sesudah setahun. Pertanyaannya, apakah cinta mereka akan hidup terus setelah setahun tidak berjumpa?
Selesai? Nei, nei, nei…
Di antara adegan itu, lagu-lagu sendu yang tak melewatkan goyangan tentu bermunculan. Aamir Khan berjoget di tempat yang berbeda-beda dengan Manisha Koirala dalam judul lagu Mera Mann. Anda tentu juga boleh ikut menari atau tersedu seperti Manisha Koirala yang cemburu. Ho.. ho.. ho.. lagu rancak ketika kapal mereka berhenti di pelabuhan, dekat tempat tinggal nenek si Dev di sebuah pulau. Jadilah lagu Kushiya aur gham yang sendu itu dengan arasemen piano yang rancak bana.
Sampai bagian ini bersiap-siaplah kau tersedu-sedu. Tapi cerita belum berakhir, sayang.
“Valentine nanti aku ingin kita bertemu di sana,” kata si Dev pada Priya menunjuk sebuah gedung pencakar langit di pinggiran pantai dengan bahasa Hindi yang fasih… Waktu itu mereka masih di kapal.
Intinya begini saudara-saudara, mereka janjian bertemu pada malam valentine beberapa waktu mendatang. Jadi, alamat dan nomor telpon menjadi tak penting. Duh… kok bisa gitu ya?
Selanjutnya adalah adegan pengisi waktu. Di mana Dev bekerja membikin mural, dia pelukis lo. Dan Priya bersibuk-sibuk di rumah menunggu tunangannya pulang. Bukan pelem India namanya jika tak ada adegan seperti ini: si Priya harus berkata jujur pada tunangannya yang namanya (katakanlah) Ajai—gak mungkinlah Agung, Jejen, Perca, atau Gusmuh kan?
Dan cerita pun bergulir. Ini baru dua disk kawan, jadi sabarlah. Nikmati aja lagu Tina Tik Tana ini dengan mengikuti lirik Iwan tadi. Dia tidak cantik mak… dia tidak jelek mak... dan bersiap-siaplah meluncur dengan mobil masing-masing menuju tempat yang dijanjikan.
Apa kata saya, kejutan belum berakhir. Sebuah mobil celaka tiba-tiba merusak kemesraan kita. Priya ditabrak begitu saja, kakinya harus diamputasi. Si Dev sebal, melempar bunga dan pergi. Lu sih, disuruh minta nomor HP gak mau.
Adegan selanjutnya adalah kesedihan dan kesedihan. Siapkan ember Anda, ukurlah seberapa besar simpati Anda pada seseorang.
Priya begitu murung dan tertekan. Hidupnya hanya diisi dengan mengajar anak-anak kecil menari, melukis, dan bernyanyi. Dia duduk di kursi roda ditemani Ajai yang setia. Sementara Dev? Dia rajin melukis bro. Dia akan melelang dan setelahnya dia akan pindah ke pulau di mana dulu neneknya pernah tinggal.
Tapi pertemuan itu terjadi juga. Pada sebuah pementasan yang entah apa. Ternyata India begitu kecilnya. Seusai pementasan Dev mendekati Priya yang masih duduk di bangkunya. Dev berkata-kata pedas dan memaki. Priya menanggapinya dengan tenang dan kesabaran tanpa ampun. Ini bagian yang paling banyak menguras tangis. Ember, udah penuh belum?
Setelah puas mencerca, Dev berlalu.
Dan tiba-tiba suatu hari, menjelang kepindahannya ke pulau, Dev muncul di rumah Priya. Perempuan itu tetap duduk di sofa agar Dev tak tahu kalau kakinya telah tak ada akibat perjanjian pertemuan mereka yang celaka itu.
“Seorang cacat telah membeli lukisan saya,” katanya di antara cercaan, makian, dan juga kata-kata sendunya.
Sebelum pergi dia berbalik dan berkata. (sebagai saran, tariklah napas Anda. Ini adegan yang jauh lebih sendu lagi). “Oh ya. Nenek sudah meninggal. Dan dia minta seseorang mau memakai gelang kaki darinya. Seseorang itu adalah kamu!” Begitulah kira-kira kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Priya terpekik. Dan…. “Saya juga penasaran dengan orang cacat yang memberi alamat di rumah ini,” kata Dev. Dan ia masuk ke kamar Priya. Lukisannya ada di sana. Bersegeralah Dev mendekat. Hendak memasang gelang kaki dan ingin tahu ada apa dengan Priya.
“Dev, please, jangan. Gue gak bisa….” begitu kira-kira kalau diterjemahkan ke bahasa anak muda.
“Tapi gue ingin memasangkan kalung ini ke kaki lu, sebagaimana pesan Oma sebelum jatuh di alam baka.”
“Tapi gue gak bisa Dev. Please deh ah....”
Pertengkaran dan paksaaan semacam itu membuat airmatamu akan terus mengucur. Dan….
Dev terpekik begitu tahu, Priya sudah tak punya kaki. Tak perlu kata-kata, Dev. Tak perlu penjelasan, Priya. Kebahagiaan ada di ruang tamui ini.
Adegan selanjutnya? Tentu saja Dev menggendong Priya dari pelaminan setelah sumpah sehidup-semati.
Puas… puas...puas…????!!!!
MANN Sutradara: Indra Kumar Produser: Indra Kumar & Ashok Thakeria Pemain: Amir Khan, Manisha Koirala, Neeraj Vohra, Mushtaque Khan, Sharmila Tagore (bukan Robindranat lo), Anil Kapoor, Rani Mukherjee, Shama Gesawat, Deepti Bhatnagar, dan Dilip Tahil Musik: Sanjeev Darshan Tayang: 1999
Labels: Drama, India
tonton selengkapnya!
|
posted by Pengasap Kubur @ 9:27 PM
 |
|
|
|
|
| Tuesday, July 17, 2007 |
|
Film Romantis yang Bikin Ngakak |
kontributor: kotho ben punjabi
“Aku mau film Endonesia saja. Yang cinta-cinta gitu,” kata seorang teman sambil menjulurkan uang 2000 perak kepada saya. Uang itu keluar setengah terpaksa dan ancaman yang jelas. 2000 kok mintanya macam-macam.
“Inneke Koesherawati mau?” kataku kesal.
“Ada po?” tanyanya.
“Pelem-pelem yang kayak betina gitu, atau Novel Tanpa Huruf R, Daun di Atas Bantal, Sumanto atau Mai heel(my hearth maksudnya) boleh juga, tuh.” Celoteh teman saya yang satu, sok cerdas. “Agak berat tuh. Tapi keren...”
“Kau dah nonton pelem-pelem yang kau sebut tadi?” tanyaku.
“Belum semua sih, paling juga Novel Tanpa Huruf er sama Daun di Atas Bantal. Keren abis. Saya sampai tidak mengerti jalan ceritanya,” katanya bangga. Oh, jadi pelem bagus itu pelem yang tak dimengerti ya? O, Tuhan, ampuni hamba dari dosa-dosa ini!
“Ha.. Cinta Pertama aja, Bunga Citra Lestari pemainnya.. yang Lagunya Sani..sani gitu. Orangnya, aktingnya, wuihh,.. mantap. Dia itu dulu sebenarnya....” kebiasaan dia kalau sudah ngomong selalu begitu. Entah menyombongkan kebohongannya atau dia memang terlalu pintar ndobisinnya? Sok tahu segalanya.
Jadilah malam itu satu pelem Indonesia, empat pelem luar, dan dua pelem porno teronggok di depan komputer.
Saya mengalah, teman-teman saya berebut nonton Cinta Pertama dan saya pindah kamar, liat Finding Neverland. Sesekali saya terbahak mendengar dialog pelem di seblah kamar yang ada kata-kata, “lu-gue, lu-gue"nya itu.
Pelem saya duluan selesai. Mereka belum. Sepertinya mereka nggak langsung tancep ke Cinta Pertama, tapi muter pelem porno lebih dulu. Aku mengintip. Duh mak, ini pelem apa sinetron? Begitu komentar saya pertama kali. “Gue tidak suka pelajaran sejarah waktu SMA. Lu gak tau kan? Berarti masih banyak yang lu belum tau tentang gue,” begitu kata si cewek yang bernama Alya itu. Dan aku tergelak besar. Tak suka sejarah? Kenapa? Tidak ada penjelasan bung. Sok-sokan aja kali, mengikuti selera penulis skenario yang sok paham situasi politik di tanah air ini.
Kesalku memuncak ketika ada dialog, kira-kira berbunyi begini, “Gue menyukai dia, seperti gue menyukai gerimis,” Alamak... sekatrok-katroknya saya, saya itu penyair juga. Tapi denger itu, mau muntah saya dengan penggalan yang sok dramatis ini. Aku menungging di depan komputer (terbayang kan kalo sy udah nungging?).
Saya dengar teman yang banyak omong tadi mulai sesegukan bawang bombay. “Yah udah kalau lu tak suka. Tapi jangan ganggu kesedihan gue dong.” Ha? Dia ngomong sudah pakai gue segala?
Bayangkan, sepanjang pelem itu diputar, yang kita tangkap adalah suasana muram dan kelam. Sebentar saja kita akan diingatkan pada setting film-film romantis Jepang atau Korea. Kapas berterbangan, daun berguguran, sementara angin tak terlihat keras sama sekali. Lalu hujan. Hujan di bulan Mei, Sapardi. Bukankah Mei adalah bulan di mana kemarau baru saja mengetuk pintu? Tapi di pelem itu, selama ujian akhir berlangsung sampai pengumuman kelulusan, hujan tak lepas-lepas dari adegan.
Pusat cerita adalah buku harian. Ini betul-betul mengutip adegan film Jepang, bergaya sama yang saya lupa judulnya. (Ira Komang Jageg, apa judulnya?) Belum lagi alur maju mundur, di mana buku tersebutlah yang bercerita. Tapi di pelem ini maju mundur alur ini makin mengacaukan imaji kita.
Izinkanlah saya sok cerdas menulisnya begini: cerita ini berpusat pada Alya dan buku hariannya. Waktu SMA dia jatuh cinta pada seorang pemain basket sekolah tapi tak bisa main basket.(Garingkan? Garing Nugroho kali). Selesai SMA si cowok kuliah ke kota lain, gak tau tu kemana. Trus adegan terputus panjang sekali. Tiba-tiba si cewek sudah bertunangan. Entah berapa tahun peristiwanya sejak mereka lulus SMA. Entah cowok dari mana pula yang jadi tunangannya itu. Tak ada penjelasan.
Setelah pertunanganan itu, suatu pagi si cowok datang ke rumahnya. “Alya lagi tidur tuh. Bangunin aja.”
Duh mak... lagi tidur aja dandanannya menor begitu apalagi bangun ya? Tidurnya gak di ranjang lagi. Semalaman dia tidur di luar kali... tapi kok gak masuk angin. Oh, Tuhan bagaimana ini.
Ketika dibangunkan, kepala si cewek miring ke kanan. Si cowok kaget. Adegan berpindah cepat ke rumah sakit. Ceweknya bunuh diri? No. katanya sih pendarahan otak gitu. Dan cerita mulai berputar-putar seperti itu. Mulai dari membaca diari, rasa cemburu, pencarian Sunny yang ternyata sudah menikah. Juga upaya Sunny membangunkan Alya.
Jangan bertanya banyak dan berharap lebih dari sini deh. Adegan yang sengaja dibikin suram, bahkan rumah sakit tampak seperti ruang jagal. Untung sutradaranya bukan Rizal Mantovani (betul gak nih namanya?). Bisa-bisa muncul bayangan putih dari balik kaca. Hiii.....
Keseluruhannya, ini pelem yang saya pikir konyol dan berlebihan. Anak muda Jakarta sekarang masa gak punya hp? Lalu nikmat cinta pertama seperti apa yang dipertahankan? Gak ada dialog dan gambar yang merujuk pada peristiwa istimewa sehingga patut dikenang dsb, dsb. Apa yang ingin disampaikan pada peristiwa ini? Dialognya yang sok romantis? Atau beberapa adegan tampak dibikin-bikin itu?
Bayangkan, si Alya sakit, pendarahan otak yang konon sudah lama dialaminya. Tapi demi tuhan yang maha pemaaf, tak ada adegan yang memperlihatkan dia kepayahan dan sakit. Dia melonjak-lonjak terus, tertawa-tawa, menangis, sedih, murung dan gembira dengan mimik yang nyaris sama. Lalu tiba-tiba entah karena apa penyebabnya, jadilah sepanjang cerita dia terbaring di rumah sakit yang pengap dan suram itu. Sepanjang cerita. Wuihh.. gila.
Atau simak adegan si cowok yang mengajarkan si cewek cara belajar yang efektif. Mulailah dia bercerita tentang sejarah di Eropa Timur... di kantin dan tengah malam pula. Jadilah sepanjang pelem ini diputar saya ngomong dan tertawa terus. Hampir setiap adegan selalu ada yang membuat saya tertawa.
Besoknya saya mengajak pacar saya menontonnya.
“Hus.. jangan cerewet. Jangan menonton dengan verbal, pakai rasa,” kata pacar saya sambil mengusap airmata. Sedih dia. Saya usap airmatanya itu. Hihihi, kok jadinya seperti pelem India.
Dan rasa, katanya, saudara. Rasa? Apakah saya harus melakukannya? Sekarang, sayang?
CINTA PERTAMA Pemeran: Bunga citra lestari. Ben Joshua, Richard Kevin, Ratna ruchia Sutradara: Nayato fio naula Sekenario: Titin watimena Produksi: Maxiuma fictured 2006
Labels: Drama, Indonesia
tonton selengkapnya!
|
posted by Pengasap Kubur @ 7:24 PM
 |
|
|
|
|
| Thursday, July 12, 2007 |
|
Bulu Dada James Bond |
kontributor: arya “sim card” perdana
James Bond kita kali ini berbeda dengan James Bond yang dulu-dulu. Kalo dulu, Sean Connery atau Pierce Brosnan tampil kalem dan flamboyan, kini yang tampil Daniel Craig, pria Inggris yang-kata perempuan yang nonton sama saya: “Lambe-nya itu loh…. Jadi inget lolipop!”
Coba ingat-ingat lagi saat Connery atau Brosnan mengucap kalimat perkenalan khasnya, "My name's Bond. James Bond." Dengan setelan hitam yang rapi klimis licin, Bond ala Connery dan Brosnan memang elegan, charming, dan semerbak melati mewangi.
Tapi Bond cap Daniel Craig jauh beda. Ia kasar, ganas dan dingin. Berantakan, emoh mikir ruwet-ruwet. Dan satu yang penting, Bond generasi terbaru ini senang betul mengumbar bulu dada ke penonton. Para penonton bisa bingung: Ini James Bond atau Rhoma Irama yang di pelem-pelemnya dulu juga doyan banget pamer bulu dada sambil nyanyi dan nari-nari!
Gara-gara sering lihat Bond pamer bulu dada inilah saya menemukan kesimpulan. Gini: bulu dada Bond yang diperankan Daniel Craig ini ternyata halus dan lurus sama kaya rambutnya, sementara bulu dada Rhoma Irama keriting ngglundung, sama juga kaya rambutnya yang ngglundung kriting. Kesimpulannya: kriting atau tidaknya bulu dada ditentukan oleh kriting atau tidaknya bulu rambut (mari kita bertanya pada Rudi Hadisuwarno yang bergoyang).
Perhatikan gayanya waktu pesan minuman martini. "Stir, not shake," bilang Bond versi Brosnan. Tapi Bond versi Craig dengan sengaknya ngomong , "stir or shake, I don't give a damn!". Hahaha. Benar-benar nggak nurut pakem si Bond satu ini.
Sebenarnya, inilah prekuel dari film-film Bond sebelumnya. Di sinilah dipaparkan kenapa agen Bond ini kok bisa jadi agen andalan MI-6, agen rahasia Inggris yang tentu saja bukan intel Melayu.
(PERINGATAN: INI BAGIAN SPOILER/BOCORAN FILM)
Ceritanya, Bond dikirim ke Madagaskar (ini saudara jauh Makasar). Ia diminta memburu seorang teroris pembuat bom bernama Mollaka (bedakan dengan Tan Malaka!), di kota Nambutu. Di sinilah terjadi adegan seru. Kejar-kejaran Bond vs Mollaka di crane yang tingginya naudzubillahi mindalik. Bond si agen MI-6 benar-benar nekat. Jantung saya berdebar lebih kencang saat kamera mengikuti aksi Bond bertarung di crane yang tingginya lebih dari 300 meter di atas tanah.
Mollaka ini menghubungkan Bond dengan Alex Dimitrios, pembantu dekat buruan utama Bond, pria dengan satu bola mata yang terbikin dari kaca, Le Chiffre. Dia pake sepatu biasa, sebab kalau sepatunya juga ikut-ikutan terbuat dari kaca, namanya pasti Cinderella.
Singkat cerita, Bond bikin gagal rencana Le Chiffre buat meledakkan sebuah pesawat saat sedang diluncurkan di kota Miami. Bond juga bisa membunuh Dimitrios (setelah sebelumnya hampir meniduri istri Dimitrios, Solange, yang tubuhnya bakal bikin lelaki normal maupun abnormal ngeces-ngeces kaya burung walet).
Bond pun terlibat taruhan gede-gedean lawan Le Chiffre di Casino Royale, Montenegro (negara yang dulu pernah begitu rasis tapi memakai kata Negro). Bond pake duit Pemerintah Inggris. Makanya, setiap pengeluaran Bond diawasi benar sama bendahara Vesper Lynd (Ini masih sepupuan sama pemilik pabrik motor Vespa), si gadis Bond yang agak keluar kebiasaan karena digambarkan sebagai wanita pintar (berarti yang sebelumnya nggak pinter donk? Kan gak penting, yang penting semok. Hihihi…).
Kembali ke laptop….
Ngaku-ngaku pinter main poker, Bond justru kalahan pada awalnya. Duitnya habis. Tekor. Minta duit lagi sama Vesper, eh nggak dikasih. Akhirnya, Bond dipinjami duit sama CIA. Entah gimana ceritanya, Bond pun menang poker (soalnya saya nggak ngerti cara main poker, ngertinnya main gaplek di pos ronda). Tapi Le Chiffre sukses menyandera Vesper dan memancing Bond buat main kejar-kejaran pake mobil sport di jalanan mulus berkelok di Montenegro.
Kayaknya, Bond ini nggak semahir supir metromini kalo soal kejar-kejaran pake mobil. Bond celaka dan ditangkap Le Chiffre. Bond ditelanjangi, disiksa, dan dipecuti. Ada humor segar saat Bond disiksa begini. Ia malah minta Le Chiffre buat memecut "biji"nya. Argggghhhhhhh....serem! Membayangkan sakitnya membikin perut saya mules tiba-tiba.
Toh, pertolongan buat Bond tiba juga. Sosok misterius bernama Mr White muncul dan membunuh Le Chiffre. Bond pun berlibur sama Vesper-yang akhirnya jadi pacarnya-di Italia.
Di ujung cerita, peran Vesper dan Mr White pun kemudian terungkap. Siapa sebenarnya mereka akhirnya diketahui Bond. Film ditutup dengan adegan berisi tagline populer yang sudah saya sebut di atas: "My name's Bond. James Bond".
SPOILER/BOCORAN FILM BERAKHIR DI SINI
Gampang buat menggambarkan kesenangan nonton film Bond di bioskop. Adegan seru, desing peluru saat adu pistol, kejar-mengejar dengan mobil sport mahal, perempuan-perempuan bahenol yang bakalan nangkring di otak untuk setidaknya 1 pekan ke depan, dan gambaran akhir bahwa kebaikan akan menang melawan kejahatan.
Itulah sebabnya nonton James Bond itu terasa komplit. Adegan kebut-kebutan dan tembak-tembakkan akan menyeret pada memori daun pisang (hehehehe), persisnya memori masa kecil yang senang tembak-tembakan. Sementara adegan belai-belaian cewek seksi mengingatkan kita pada adegan beberapa hari silam di kamar kost atau di Paragkusumo. (baca dengan ekpresi mengedipkan mata: “Twink… twink….” Sambil lirik Ismanto tentu saja!)
Judul: Casino Royale (2006) Sutradara: Martin Campbell Aktor: Daniel Craig, Eva Green, Mads Mikkelsen, Jesper Christensen, Caterina Murino Produser: Michael G Wilson
Labels: Detective, USA
tonton selengkapnya!
|
posted by Pengasap Kubur @ 11:34 AM
 |
|
|
|
|

kami ini sedang berlagak bak kritikus film. tapi maap, selera pilm kami masih kelas ingus. oh ya, satu lagi, kami ini baru belajar menulis. jadi: buah jeruk buah delima, tulisan buruk jangan dihina! maka kirimkan rol film anda ke balkon bioskop tua kami di: nonton.film@gmail.com
|